Dari Kebun ke Cangkir: Kopi Lokal Desa Tegaron Banyak Diminati Kalangan Anak Muda

Semarang, 28 Juli 2025 — Desa Tegaron, yang terletak di Kecamatan Banyu Biru, Kabupaten Semarang, menjadi salah satu lokasi pengabdian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari UIN Walisongo Semarang. Setelah melalui proses penerimaan pada 15 Juli 2025, para mahasiswa memulai kegiatan mereka dengan membangun silaturahmi dan menjalin komunikasi dengan para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di desa tersebut.

Desa Tegaron menyimpan kekayaan potensi lokal yang tumbuh dari kearifan masyarakat dan alam sekitarnya. Berbagai jenis usaha tradisional seperti anyaman bambu dan produksi gula aren menjadi bagian dari identitas ekonomi masyarakat desa. Namun, dari sekian banyak potensi UMKM yang ada, kopi muncul sebagai salah satu komoditas unggulan yang kini semakin dilirik, terutama oleh kalangan muda.

Dengan memanfaatkan lahan pekarangan dan kondisi iklim dataran tinggi yang sejuk, masyarakat Desa Tegaron mulai membudidayakan tanaman kopi secara mandiri. Salah satu pelaku usaha kopi yang cukup menonjol adalah Bapak Sarwadi, yang telah menekuni budidaya kopi sejak lima tahun lalu. Ia menanam, merawat, dan memanen kopi secara langsung di lahannya, serta mengolah hasil panen menjadi produk kopi kering yang siap jual.

Menurut Bapak Sarwadi, kopi memiliki prospek besar untuk terus dikembangkan. Tren konsumsi kopi yang stabil, khususnya di kalangan anak muda, menjadikan komoditas ini semakin diminati. Anak muda saat ini tidak hanya meminum kopi sebagai rutinitas, tetapi juga menjadikannya bagian dari gaya hidup, ajang bersosialisasi, bahkan identitas diri. Fenomena ini menjadi peluang besar bagi petani dan pelaku UMKM untuk menangkap pasar yang terus berkembang.

Mahasiswa KKN UIN Walisongo Posko 43 berkesempatan mengikuti langsung proses panen kopi di kebun milik Bapak Sarwadi. Mereka juga terlibat dalam rangkaian pascapanen mulai dari penjemuran biji kopi selama tujuh hari di bawah terik matahari hingga proses penggilingan menggunakan mesin pulper untuk memisahkan biji dari kulit buahnya.

Fantastisnya, biji kopi kering hasil olahan Bapak Sarwadi memiliki nilai jual yang cukup tinggi di pasaran. Dalam kondisi kering dan siap jual, harga kopi bisa mencapai sekitar Rp 55.000 per kilogram. Bahkan, dalam kondisi tertentu seperti saat panen berkualitas tinggi atau permintaan pasar meningkat harga kopi miliknya bisa menembus angka Rp 80.000 per kilogram. Angka ini mencerminkan tidak hanya kualitas dan citarasa kopi lokal yang unggul, tetapi juga potensi besar kopi sebagai komoditas ekonomi yang menjanjikan.

Kopi terbukti menjadi peluang usaha yang sangat menguntungkan, terutama jika dikelola dengan serius dan konsisten. Usaha kopi mencakup berbagai lini mulai dari budidaya, proses pascapanen, penyangraian, hingga pemasaran produk akhir seperti bubuk kopi kemasan atau sajian minuman di kedai kopi. Setiap tahapan membuka ruang usaha dan nilai tambah ekonomi yang signifikan. Dengan tren konsumsi kopi yang terus meningkat, serta minat pasar terhadap produk lokal dan organik, kopi dari Desa Tegaron memiliki potensi untuk berkembang tidak hanya di tingkat lokal, tetapi juga menembus pasar yang lebih luas.

Share:

Tegaron.id adalah Ruang Komunitas Digital Desa Tegaron. Kami fokus pada pemberdayaan masyarakat desa melalui pemanfaatan teknologi digital.

Leave a comment