blog image

Pengrajin Tenggok Bambu Desa Tegaron : Warisan dan UMKM Lokal

Desa Tegaron, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang – Desa Tegaron di Kecamatan Banyubiru tidak hanya terkenal dengan keindahan alamnya, tetapi juga dengan keahlian warganya dalam membuat tenggok, keranjang tradisional yang terbuat dari bambu. Kerajinan ini telah menjadi salah satu warisan budaya yang masih dipertahankan hingga saat ini.

Tenggok adalah keranjang multifungsi yang digunakan masyarakat untuk berbagai keperluan, seperti membawa hasil panen, berbelanja, atau menyimpan barang. Di tengah gempuran produk plastik modern, pengrajin tenggok di Desa Tegaron tetap bertahan dengan menghadirkan produk berkualitas tinggi yang ramah lingkungan.

Menurut Pak Marwan (47), salah satu pengrajin tenggok di desa tersebut, proses pembuatan tenggok membutuhkan ketelitian. “Bambu harus dipilih yang kuat tapi lentur, lalu dipotong dan dianyam dengan pola tertentu. Ini pekerjaan yang membutuhkan kesabaran,” jelasnya.

Selain menjaga kualitas, para pengrajin di Desa Tegaron juga mulai berinovasi. Tenggok tradisional kini dibuat dalam berbagai ukuran, bahkan beberapa di antaranya dibuat dalam ukuran kecil sebagai suvenir khas. Produk-produk ini tidak hanya diminati oleh masyarakat lokal, tetapi juga oleh wisatawan yang berkunjung ke Banyubiru.

Untuk memperluas pasar, pengrajin tenggok di Desa Tegaron memanfaatkan media sosial dan platform e-commerce. Dukungan dari pemerintah desa dan komunitas setempat juga mendorong pengrajin untuk mengikuti pelatihan digital marketing. Kepala Desa Tegaron, Samsudin, menyampaikan bahwa pihaknya ingin membantu pengrajin tenggok agar produknya semakin dikenal luas. “Kami sedang mempersiapkan branding produk khas Desa Tegaron, termasuk tenggok, sebagai salah satu ikon kerajinan lokal yang berdaya saing tinggi, masyarakat juga sudah membentuk paguyuban pengrajin bambu bernama Deling Ayu” ujarnya.

Keberlanjutan usaha ini juga tidak lepas dari peran generasi muda desa. Beberapa pemuda telah bergabung dalam kelompok usaha bersama untuk mempelajari teknik anyaman dan pemasaran. Hal ini menjadi bukti bahwa tradisi tidak harus ditinggalkan, tetapi dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan zaman.

Manfaat Lingkungan dan Ekonomi dari Tenggok Produk tenggok yang ramah lingkungan menjadi daya tarik utama di era kesadaran akan pengurangan limbah plastik. Selain itu, kerajinan ini memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi warga Desa Tegaron. “Dengan harga tenggok yang bervariasi mulai dari Rp20.000 hingga ratusan ribu, kami bisa mendapatkan penghasilan tambahan yang cukup untuk keluarga,” ujar Bu Suminah, pengrajin lainnya.

Dengan kombinasi tradisi, inovasi, dan dukungan teknologi, pengrajin tenggok di Desa Tegaron membuktikan bahwa kerajinan tradisional dapat terus hidup dan berkembang. Tenggok dari Desa Tegaron tidak hanya menjadi simbol keindahan budaya lokal tetapi juga solusi masa depan yang berkelanjutan.

Share:

Tegaron.id adalah Ruang Komunitas Digital Desa Tegaron. Kami fokus pada pemberdayaan masyarakat desa melalui pemanfaatan teknologi digital.

Leave a comment